Kepada kamu, calon suamiku. Jika suatu hari nanti akulah yang menjadi
istrimu, apa yang terbesit di benakmu tentang seorang aku? Semoga kau tidak
berfikir bahwa seorang psikolog mampu membaca pikiran dan isi hati seseorang
seperti kata kebanyakan orang-orang diluar sana. Ingatlah, bahwa aku hanyalah
manusia biasa, bukan dukun, tidak punya kekuatan magic dan ilmu cenayang untuk
membaca pikiranmu dan isi hatimu. Namun, aku belajar mengamati perilaku orang,
aku belajar tentang tingkah laku seseorang. Jadi jangan berharap aku bisa
membaca pikiran dan isi hatimu jika kau hanya diam saja. Ketika suatu hari
nanti kau sedang tidak enak hati dan perasaan, ceritalah kepadaku. Dengan
bercerita aku mampu memahami keadaanmu lebih baik.
Adakalanya nanti, aku memang akan keluar rumah untuk melaksanakan
pekerjaanku, bukannya aku tidak menghargai kamu sebagai seorang pemberi nafkah,
karena aku bekerja pun bukan semata-mata karena mengejar materi yang berlimpah.
Aku hanya ingin membagi ilmu yang aku miliki, menjadi berguna bagi mereka yang
memang membutuhkan. Percayalah sayang, pertambahan zaman yang semakin modern
ini akan membuat banyak orang-orang yang membutuhkan jasa seorang psikolog.
Pada saatnya nanti mungkin aku akan ada diluar rumah, bertemu dengan
berbagai orang-orang yang memiliki keunikan masing-masing. Berhadapan dengan
klien-klien yang beraneka ragam perilakunya, sehingga akan menguras energi yang
aku miliki hari itu. Namun dihadapan mereka aku harus tetap baik-baik saja.
Jadi, ketika aku sampai dirumah, maafkan aku kalau aku menjadi seorang yang
menyebalkan. Semoga kamu mampu memahami bahwa aku juga wanita biasa yang
terkadang menghadapi keadaan mood yang tidak stabil. Kumohon ketika itu, jangan
balas dengan menjadi orang yang menyebalkan pula. Tersenyumlah, peluk aku
dengan penuh cinta, sedikit kata-kata manis akan cepat mengembalikan mood ku menjadi
baik lagi. Karena pekerjaan ku adalah membagi kebahagian kepada oranglain, maka
aku butuh asupan bahagia yang lebih. Dan aku tau kebahagiaanku adalah kamu,
calon suamiku.
Ketika aku sedang berada di luar rumah, mungkin aku akan bertemu dengan
banyak orang. Perempuan, laki-laki, anak-anak dan sebagainya. Saat itu aku
pasti akan memberikan perhatian ku kepada mereka, klien ku. Ku mohon kau jangan
marah, ku mohon kau jangan cemburu apalagi curiga. Perhatian ku terhadap mereka
hanya sebatas lingkungan pekerjaan. Atau mungkin suatu malam kau terbangun dan
mendapati aku tidak ada disampingmu, aku sedang menyelesaikan laporan-laporan
untuk klien ku. Maafkan aku, karena bagaimana pun itu memang tanggung jawabku.
Semoga kamu mengerti.Suatu hari nanti, pasti akan kita temui masa-masa tersulit
dalam kehidupan rumah tangga kita, kumohon jangan pernah mengatakan, “kamu kan
seorang psikolog… seharusnya…”. Karena sayang, sekali lagi aku ingatkan aku
hanyalah manusia biasa, aku bisa salah, aku bukan orang yang tau segalanya.
Tolong ingatkan aku ketika aku salah, tolong beritau aku ketika aku tidak tau.
Tentunya dengan penuh kelembutan, karena bertindak dengan pikiran jernih akan
terasa lebih baik.
Calon suamiku, jangan menuntut aku sebagai seorang yang sempurna, cukup orang-orang
diluar saja yang menilai aku seperti itu, karena aku ingin kau mengerti
saat-saat dimana aku sedang berada dalam keadaan terburuk dan terlemah. Biarkan
aku membaginya denganmu, kamu saja.Dan apabila suatu hari kau sudah tidak ingin
aku bekerja untuk oranglain lagi, aku akan menuruti maumu. Apalah arti menjadi
seorang psikolog handal kalau tidak bisa menjadi istri yang baik. Ingatkan aku
bahwa ridho seorang suami adalah ridho Allah bagi seorang istri. Tapi tenang
saja, mimpiku sebagai seorang psikolog masih dapat kujalani. Ya. Biarkan aku
menjadi psikolog pribadimu, anak-anak kita. Menjadi psikolog dalam keluarga
kecil kita. Sungguh itu adalah pekerjaan yang tidak kalah membahagiakan
sayang.Percayalah padaku, sebagai seorang psikolog aku pun tetap ingin menjadi
ibu terbaik bagi anak-anak kita kelak. Semoga kau tidak meragukan akan hal itu,
karena aku tidak akan meninggalkan satu tahap perkembangan anak-anak kita.
Biarkan aku menerapkan ilmu yang telah aku pelajari kepada keluarga kecil kita
kelak, izinkan aku menggunakan metode-metode yang aku pelajari cukup efektif
untuk mendidik anak kita nantinya. Akan aku ajari mereka tentang ilmu agama,
pendidikan moral, dan ilmu dunia. Aku yang akan lebih cermat mengamati tumbuh
kembang mereka. Aku akan memperhatikan baik-baik bagaimana perkembangan
anak-anak kita sehingga nanti aku bisa menceritakan nya kepada kamu selepas
pulang kerja. Menjadi ibu, guru, bahkan teman bagi anak-anak kita. Aku ingin
selalu memantau dengan siapa anak-anak kita kelak akan bergaul, karena pada
waktunya nanti, kau juga tau bahwa perkembangan zaman semakin tidak terkendali.
Aku ingin anak-anak kita tumbuh dan berkembang dengan baik. Menjadikan
anak-anak kita kelak sebagai anak-anak yang sholeh dan berguna bagi keluarga
dan agama. Tentunya aku tidak akan sendiri, ada kamu imam keluarga yang akan
membimbing keluarga kecil itu menjadi keluarga yang harmonis, mewujudkan
visi-misi keluarga kecil kita itu. Tolong selalu beri aku semangat dan cinta
ketika aku lelah, karena mengurus anak-anak bukanlah perkara mudah. Mereka unik
dengan caranya mereka. Bantu aku mengenali bakat dan minat mereka. Agar potensi
yang mereka miliki dapat berkembang secara optimal.
Calon suamiku, jangan heran ketika ada tamu yang datang baik yang telah kau
kenal maupun tidak kau kenal. Maaf kalau mereka terkadang datang mungkin disaat
yang kurang tepat, hanya untuk meminta saran dan pendapatku atau hanya sekedar
bercerita tentang masalah mereka. Ya, begitulah aku.. calon istrimu ini memang
harus menjadi pendengar yang baik.Tapi tunggu dulu, ada yang mampu kupastikan
yang akan kuberikan kepadamu sebagai imbalan kau telah menjadi suami yang
pengertian. Nanti, akan ku buatkan sarapan, secangkir kopi atau teh hangat
sebelum kamu berangkat kerja, kamu juga tidak perlu repot-repot mencari dimana
tas kerjamu, sepatumu, kaos kaki, handphone, dan barang-barang yang akan kau
bawa. Karena sudah kusiapkan disatu tempat dan kau tinggal memakai dan
membawanya saja. Aku juga mengerti bagaimana tentang kewajiban ku sebagai
seorang istri dan bagaimana aku harus memperlakukan kamu sebagai suamiku.
Kemudian kecupan hangat pagi hari semoga mampu menjadi penyemangat bagimu
sepanjang hari.
Lalu, sama halnya seperti aku. Adakalanya kamu pulang kerumah dan berubah
menjadi orang yang menyebalkan. Aku paham. Dijalan macet, pekerjaanmu banyak
dan mungkin belum selesai. Rekan kerjamu menyebalkan, atau banyak stressor lain
yang kau temui diluar sana. Jangan takut sayang, aku tidak akan menjadi orang
yang sama menyebalkannya denganmu saat itu. Mari kita duduk. Menikmati kopi,
atau menu makan malam yang kamu suka. Sambil bercerita tentang apa yang telah
kita lalui satu hari ini. Aku senang bercerita, aku senang mendengar. Jadi kamu
tinggal pilih, mau aku yang bercerita atau aku yang mendengar. Jangan takut,
aku akan mendengarkan segala keluh kesahmu sampai kamu lelah sendiri untuk
mengeluh. Setelah itu, akan kuberi peluk sebagai pengganti lelahmu seharian,
peluk penuh cinta dari seorang istri untuk suaminya. Calon suamiku, izinkan aku
berperan bukan hanya menjadi istrimu tetapi juga menjadi psikolog pribadimu,
menjadi teman yang selalu ada disaat kamu butuh untuk bercerita meluapkan
kekesalan mu akan penatnya dunia, atau ketika kamu hanya butuh untuk bersandar,
dan dipeluk. Pundak dan tanganku selalu siap menerimamu dengan hangat. Menjadi
seseorang yang paling mengerti dan memahami kamu.
Dan dibalik gelar yang aku sandang, profesi yang aku kerjakan, aku hanyalah
seorang istri dari seorang kamu. Meski calon istrimu ini adalah seorang
psikolog, aku tetap butuh untuk diajari tentang bagaimana hidup, tentang
bagaimana aku menjadi orang yang lebih baik. Aku tidak akan berjalan sendiri
tanpa seizin dari kamu. Aku tidak akan memutuskan tanpa meminta persetujuan
dari kamu. Aku tetaplah ma’mum yang akan kau imami. Yang dosanya akan kau
tanggung di akhirat nanti. Jadi wanita ini selain butuh untuk kau cintai, ia
pun tetap butuh kau bimbing, kau ingatkan, kau ajari tentang ilmu dunia dan
akhirat.
Semoga kamu mengerti, semoga kamu memahami calon imamku :)
teruntuk kamu yang nanti akan ada di bangku sebelah kanan ku
#repost
Tidak ada komentar:
Posting Komentar