salju

Minggu, 21 September 2014

Jika Istrimu seorang Psikolog :)

Kepada kamu, calon suamiku. Jika suatu hari nanti akulah yang menjadi istrimu, apa yang terbesit di benakmu tentang seorang aku? Semoga kau tidak berfikir bahwa seorang psikolog mampu membaca pikiran dan isi hati seseorang seperti kata kebanyakan orang-orang diluar sana. Ingatlah, bahwa aku hanyalah manusia biasa, bukan dukun, tidak punya kekuatan magic dan ilmu cenayang untuk membaca pikiranmu dan isi hatimu. Namun, aku belajar mengamati perilaku orang, aku belajar tentang tingkah laku seseorang. Jadi jangan berharap aku bisa membaca pikiran dan isi hatimu jika kau hanya diam saja. Ketika suatu hari nanti kau sedang tidak enak hati dan perasaan, ceritalah kepadaku. Dengan bercerita aku mampu memahami keadaanmu lebih baik.
Adakalanya nanti, aku memang akan keluar rumah untuk melaksanakan pekerjaanku, bukannya aku tidak menghargai kamu sebagai seorang pemberi nafkah, karena aku bekerja pun bukan semata-mata karena mengejar materi yang berlimpah. Aku hanya ingin membagi ilmu yang aku miliki, menjadi berguna bagi mereka yang memang membutuhkan. Percayalah sayang, pertambahan zaman yang semakin modern ini akan membuat banyak orang-orang yang membutuhkan jasa seorang psikolog.
Pada saatnya nanti mungkin aku akan ada diluar rumah, bertemu dengan berbagai orang-orang yang memiliki keunikan masing-masing. Berhadapan dengan klien-klien yang beraneka ragam perilakunya, sehingga akan menguras energi yang aku miliki hari itu. Namun dihadapan mereka aku harus tetap baik-baik saja. Jadi, ketika aku sampai dirumah, maafkan aku kalau aku menjadi seorang yang menyebalkan. Semoga kamu mampu memahami bahwa aku juga wanita biasa yang terkadang menghadapi keadaan mood yang tidak stabil. Kumohon ketika itu, jangan balas dengan menjadi orang yang menyebalkan pula. Tersenyumlah, peluk aku dengan penuh cinta, sedikit kata-kata manis akan cepat mengembalikan mood ku menjadi baik lagi. Karena pekerjaan ku adalah membagi kebahagian kepada oranglain, maka aku butuh asupan bahagia yang lebih. Dan aku tau kebahagiaanku adalah kamu, calon suamiku.
Ketika aku sedang berada di luar rumah, mungkin aku akan bertemu dengan banyak orang. Perempuan, laki-laki, anak-anak dan sebagainya. Saat itu aku pasti akan memberikan perhatian ku kepada mereka, klien ku. Ku mohon kau jangan marah, ku mohon kau jangan cemburu apalagi curiga. Perhatian ku terhadap mereka hanya sebatas lingkungan pekerjaan. Atau mungkin suatu malam kau terbangun dan mendapati aku tidak ada disampingmu, aku sedang menyelesaikan laporan-laporan untuk klien ku. Maafkan aku, karena bagaimana pun itu memang tanggung jawabku. Semoga kamu mengerti.Suatu hari nanti, pasti akan kita temui masa-masa tersulit dalam kehidupan rumah tangga kita, kumohon jangan pernah mengatakan, “kamu kan seorang psikolog… seharusnya…”. Karena sayang, sekali lagi aku ingatkan aku hanyalah manusia biasa, aku bisa salah, aku bukan orang yang tau segalanya. Tolong ingatkan aku ketika aku salah, tolong beritau aku ketika aku tidak tau. Tentunya dengan penuh kelembutan, karena bertindak dengan pikiran jernih akan terasa lebih baik.
Calon suamiku, jangan menuntut aku sebagai seorang yang sempurna, cukup orang-orang diluar saja yang menilai aku seperti itu, karena aku ingin kau mengerti saat-saat dimana aku sedang berada dalam keadaan terburuk dan terlemah. Biarkan aku membaginya denganmu, kamu saja.Dan apabila suatu hari kau sudah tidak ingin aku bekerja untuk oranglain lagi, aku akan menuruti maumu. Apalah arti menjadi seorang psikolog handal kalau tidak bisa menjadi istri yang baik. Ingatkan aku bahwa ridho seorang suami adalah ridho Allah bagi seorang istri. Tapi tenang saja, mimpiku sebagai seorang psikolog masih dapat kujalani. Ya. Biarkan aku menjadi psikolog pribadimu, anak-anak kita. Menjadi psikolog dalam keluarga kecil kita. Sungguh itu adalah pekerjaan yang tidak kalah membahagiakan sayang.Percayalah padaku, sebagai seorang psikolog aku pun tetap ingin menjadi ibu terbaik bagi anak-anak kita kelak. Semoga kau tidak meragukan akan hal itu, karena aku tidak akan meninggalkan satu tahap perkembangan anak-anak kita. Biarkan aku menerapkan ilmu yang telah aku pelajari kepada keluarga kecil kita kelak, izinkan aku menggunakan metode-metode yang aku pelajari cukup efektif untuk mendidik anak kita nantinya. Akan aku ajari mereka tentang ilmu agama, pendidikan moral, dan ilmu dunia. Aku yang akan lebih cermat mengamati tumbuh kembang mereka. Aku akan memperhatikan baik-baik bagaimana perkembangan anak-anak kita sehingga nanti aku bisa menceritakan nya kepada kamu selepas pulang kerja. Menjadi ibu, guru, bahkan teman bagi anak-anak kita. Aku ingin selalu memantau dengan siapa anak-anak kita kelak akan bergaul, karena pada waktunya nanti, kau juga tau bahwa perkembangan zaman semakin tidak terkendali. Aku ingin anak-anak kita tumbuh dan berkembang dengan baik. Menjadikan anak-anak kita kelak sebagai anak-anak yang sholeh dan berguna bagi keluarga dan agama. Tentunya aku tidak akan sendiri, ada kamu imam keluarga yang akan membimbing keluarga kecil itu menjadi keluarga yang harmonis, mewujudkan visi-misi keluarga kecil kita itu. Tolong selalu beri aku semangat dan cinta ketika aku lelah, karena mengurus anak-anak bukanlah perkara mudah. Mereka unik dengan caranya mereka. Bantu aku mengenali bakat dan minat mereka. Agar potensi yang mereka miliki dapat berkembang secara optimal.
Calon suamiku, jangan heran ketika ada tamu yang datang baik yang telah kau kenal maupun tidak kau kenal. Maaf kalau mereka terkadang datang mungkin disaat yang kurang tepat, hanya untuk meminta saran dan pendapatku atau hanya sekedar bercerita tentang masalah mereka. Ya, begitulah aku.. calon istrimu ini memang harus menjadi pendengar yang baik.Tapi tunggu dulu, ada yang mampu kupastikan yang akan kuberikan kepadamu sebagai imbalan kau telah menjadi suami yang pengertian. Nanti, akan ku buatkan sarapan, secangkir kopi atau teh hangat sebelum kamu berangkat kerja, kamu juga tidak perlu repot-repot mencari dimana tas kerjamu, sepatumu, kaos kaki, handphone, dan barang-barang yang akan kau bawa. Karena sudah kusiapkan disatu tempat dan kau tinggal memakai dan membawanya saja. Aku juga mengerti bagaimana tentang kewajiban ku sebagai seorang istri dan bagaimana aku harus memperlakukan kamu sebagai suamiku. Kemudian kecupan hangat pagi hari semoga mampu menjadi penyemangat bagimu sepanjang hari.
Lalu, sama halnya seperti aku. Adakalanya kamu pulang kerumah dan berubah menjadi orang yang menyebalkan. Aku paham. Dijalan macet, pekerjaanmu banyak dan mungkin belum selesai. Rekan kerjamu menyebalkan, atau banyak stressor lain yang kau temui diluar sana. Jangan takut sayang, aku tidak akan menjadi orang yang sama menyebalkannya denganmu saat itu. Mari kita duduk. Menikmati kopi, atau menu makan malam yang kamu suka. Sambil bercerita tentang apa yang telah kita lalui satu hari ini. Aku senang bercerita, aku senang mendengar. Jadi kamu tinggal pilih, mau aku yang bercerita atau aku yang mendengar. Jangan takut, aku akan mendengarkan segala keluh kesahmu sampai kamu lelah sendiri untuk mengeluh. Setelah itu, akan kuberi peluk sebagai pengganti lelahmu seharian, peluk penuh cinta dari seorang istri untuk suaminya. Calon suamiku, izinkan aku berperan bukan hanya menjadi istrimu tetapi juga menjadi psikolog pribadimu, menjadi teman yang selalu ada disaat kamu butuh untuk bercerita meluapkan kekesalan mu akan penatnya dunia, atau ketika kamu hanya butuh untuk bersandar, dan dipeluk. Pundak dan tanganku selalu siap menerimamu dengan hangat. Menjadi seseorang yang paling mengerti dan memahami kamu.
Dan dibalik gelar yang aku sandang, profesi yang aku kerjakan, aku hanyalah seorang istri dari seorang kamu. Meski calon istrimu ini adalah seorang psikolog, aku tetap butuh untuk diajari tentang bagaimana hidup, tentang bagaimana aku menjadi orang yang lebih baik. Aku tidak akan berjalan sendiri tanpa seizin dari kamu. Aku tidak akan memutuskan tanpa meminta persetujuan dari kamu. Aku tetaplah ma’mum yang akan kau imami. Yang dosanya akan kau tanggung di akhirat nanti. Jadi wanita ini selain butuh untuk kau cintai, ia pun tetap butuh kau bimbing, kau ingatkan, kau ajari tentang ilmu dunia dan akhirat.
Semoga kamu mengerti, semoga kamu memahami calon imamku :)

teruntuk kamu yang nanti akan ada di bangku sebelah kanan ku
#repost

Tidak ada komentar:

Posting Komentar