salju

Sabtu, 27 Desember 2014

RIP


Merindukanmu Teman :)
Tak pernah terlintas akan terpisah dengan cara seperti ini
Tak pernah tau bahwa kita tak akan pernah bertemu lagi
Namun tampaknya takdirNya lebih kuat berbicara
Tapi tak mengapa karena ku tau kamu lebih disayang-Nya
Selalu ada rindu setiap teringat apa yang telah kita jalani
Selalu ada kekuatan kala teringat setiap kebaikan yang kau beri
Meski semua menyesali kepergianmu, demikian juga aku
Namun mungkin itu yang terbaik bagimu dan kita semua
Mungkin kita tak bisa bersama lebih lama lagi di dunia
Tapi ku kan berusaha agar kita bisa bersama
Meski itu di alamNya yang berbeda
Sungguh tak pernah terbesit sedikitpun penyesalan
Meskipun hadirmu hanya sesaat di dunia
Tapi ku yakin kamu membawa kebaikan bagi semua
Adi Yahya Pramana …
Kalau kau tahu saat ini aku dan keluargamu disini merindukan dirimu :’(

Kenangan Terindah



Selamat Tinggal Kenangan..

Terima kasih untuk masa lalu, tentang segala kenangan yang indah. Terima kasih telah mengajarkanku arti sebuah kerelaan .
Maaf, maaf untuk hadirku di hidupmu. Yang dengan begitu bodoh tak pernah memahami isi hatimu. Maaf juga telah begitu lama membebanimu dengan kehadiranku, sampai kau harus rela menjaga perasaanku di waktu yang cukup lama. Jika boleh memutar waktu, aku hanya ingin mengembalikan waktu yang terbuang karenaku. Tapi kusadari itu hanyalah kemustahilan. Benar, aku tak punya kuasa untuk semua itu. Karena meski begitu tertatih dan berat, pelan tapi pasti aku mencoba menjadi tiada bagimu, tentu bukan dengan menghapus segala tentangmu atau melupakan. Tapi dengan melepas semuanya, melepas semua milik yang menulis tentangmu. Dan tentu, rumah kecilku, rumah yang hampir semua adalah tentangmu. Pun akan kulepaskan juga, berat? Itu pasti.
Namun aku percaya, kau adalah bagian dari skenario hidupku yang hanya bertugas mampir sejenak, karenanya ketiadaanku kelak sepenuhnya dalam hidupmu, bukan karena aku merasa terluka atau akibat kebencianku padamu.

Sebab satu hal yang kuyakini, orang yang benar-benar mencintaimu, hanya memiliki satu pilihan ketika kau tak lagi mencintanya “pergi, lalu membawa sepotong hatimu”
Sekali lagi maaf dan terimakasih, doaku kau selalu bahagia..
ps: maaf, tapi izinkan sekali ini lagi,
mengatakan “aku mencintaimu” :’)
***

Jumat, 26 Desember 2014

Memprediksi Akhir Hubungan Pacaran

Setelah saya kapan hari pernah mengalami permasalahan ini saya jadi ingin memposting ini :D
So, Let it Read ...
― Karen Joy Fowler, The Jane Austen Book Club
Siapa yang menduga bahwa sepasang kekasih dapat putus hanya karena hal sepele seperti . Berakhirnya hubungan pacaran tanpa alasan jelas sering memunculkan banyak pertanyaan, apa sebenarnya yang terjadi diantara (mantan) pasangan tersebut. Bahkan, terkadang pasangan yang putus sendiri pun bingung, bagaimana hubungan mereka menjadi “layu dan mati”, benar bukan?
kenapa putus
Akhir sebuah hubungan pacaran sesungguhnya dapat diprediksi semenjak hubungan sepasang kekasih masih terlihat baik-baik saja. Tepatnya, tanda-tanda putusnya sepasang kekasih terlihat dari pola dinamika faktor-faktor psikologis yang terakumulasi selama masa pacaran berlangsung.
Beberapa faktor psikologis yang dapat membangun dan mengubah suatu hubungan berpacaran antara lain:
  1. Faktor individual masing-masing pasangan, misalnya tipe kepribadian, tingkat kepercayaan atas takdir, tingkat harga diri, atau pengalaman berhubungan yang dimiliki masing-masing individu yang berpacaran.
  2. Faktor di luar pasangan, misalnya kesamaan lingkungan pertemanan dan dukungan dari orang-orang sekitar pasangan.
  3. Faktor hubungan antar pribadi dalam berpacaran, misalnya cinta, kedekatan, komitmen, kepuasan dalam berhubungan, kejujuran dan kepercayaan, saling bergantung, penyesuaian diri, keterlibatan pasangan ke dalam diri pribadi, cara memandang hubungan, pasangan alternatif (selingkuh), adanya konflik, lama berpacaran, dan kepastian perasaan.
Lantas, faktor manakah yang paling dapat memprediksi putusnya sebuah hubungan pacaran? Bagaimanakan pola yang menandakan bahwa pasangan akan putus?
Banyak penelitian telah dilaksanakan untuk menjawab pertanyaan tersebut dengan kombinasi variabel, metode, sampel, serta hasil yang berbeda-beda. Untuk menemukan jawaban final dari pertanyaan kenapa sebuah hubungan bisa putus, sekelompok peneliti pun menganalisa seluruh penelitian tersebut untuk mencari kesimpulan besarnya (Le, Dove, Agnew, Korn, & Mutso, 2010). Le dkk. (2010) menganalisa 137 penelitian tentang akhir hubungan pacaranyang dilaksanakan sejak tahun 1973 sampai 2006 dan melibatkan 37.761 orang sampel.
Penelitian meta-analysis yang disebutkan di atas menghasilkan beberapa temuan. Yang pertama, kelanggengan sepasang kekasih kurang dapat diramalkan oleh faktor-faktor individual. Namun, faktor-faktor tersebut justru dapat memprediksi pola hubungan percintaan seseorang dalam jangka panjang. Misalnya, apakah seseorang cenderung berganti-ganti pasangan atau cenderung setia pada satu pasangan sepanjang hidupnya. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa faktor eksternal, yaitu kurangnya dukungan dari orang-orang di sekitar pasangan, hanya memiliki pengaruh sedang untuk menentukan akhir sebuah hubungan berpacaran.
Prediktor terkuat untuk meramalkan putusnya sepasang kekasih adalah pola dinamika faktor-faktor hubungan antar pribadi dalam berpacaran. Dari 16 sub-faktor hubungan dalam berpacaran yang diteliti, tiga sub-faktor merupakan prediktor kuat untuk meramalkan akhir hubungan. Ketiga sub-faktor tersebut adalah:

1. Cinta
kenapa putus
Ya, cinta. Bicara soal cinta, memangnya apa sih cinta? Rasa senang ketika bertemu, kah? Memikirkan pasangan tiada henti, kah? Merasa cocok layaknya soulmate, kah? Selalu memperhatikan kebutuhan pasangan, kah? Saya percaya bahwa cinta adalah hal yang sangat pribadi sehingga setiap orang mungkin memiliki pemahaman yang unik tentangnya. Namun, hubungan romantis tanpa adanya gelora cinta bagaikan membuat api unggun menggunakan setumpuk koran dan bukannya kayu bakar, sehingga akan cepat berakhir. Tetapi, apakah cinta saja cukup menjadi “modal” untuk membangun hubungan pacaran yang langgeng?

2. Komitmen
Kenapa Putus
Tentu, menggantungkan kelanjutan hubungan berpacaran pada perasaan cinta saja tidak cukup. Pasangan berpacaran tetap harus berusaha mempertahankan hubungan mereka dengan membangun komitment. Api cinta dapat membesar dan mengecil sesuai kondisi yang dialami pasangan.Hanya komitmenlah yang mampu mengikat erat hubungan percintaan saat rasa cinta sedang meredup. Oleh karena itu, faktor komitmen merupakan prediktor yang lebih kuat daripada cinta untuk memprediksi kelanggengan sebuah hubungan pacaran. Pasangan yang kurang memiliki komitmen satu sama lain menandakan bahwa mereka akan putus. Contoh dari perilaku yang didasarkan dari kurangnya komitmen misalnya cepat mencoba mendekati orang lain saat terlibat pertengkaran dengan pasangan.

3. Cara Pandang terhadap Hubungan
kenapa putus
Prediktor yang paling kuat untuk meramalkan akhir hubungan berpacaran adalah cara pasangan memandang hubungan mereka. Pasangan yang berpandangan positif terhadap hubungan yang mereka jalin cenderung akan langgeng. Anehnya, cara pandang ini terlepas dari kualitas hubungan yang sesungguhnya. Kondisi hubungan berpacaran yang buruk dapat bertahan lama asalkan pasangan tetap percaya bahwa hubungan mereka baik. Di sisi lain, hubungan berpacaran yang baik akan cepat putus jika pasangan terus saja melihat hubungan mereka secara negatif. Wow, romansa ternyata penuh dengan ilusi, ya!
Selain ketiga sub-faktor hubungan di atas, terdapat beberapa sub-faktor lain yang cukup mampu memprediksi akhir hubungan pacaran. Misalnya, kentalnya keterlibatan pasangan dalam kehidupan pacarnya dapat menandakan hubungan tersebut akan langgeng. Perasaan campur aduk terhadap pasangan ditambah dengan banyaknya pilihan untuk mengganti pasanganmenunjukkanbahwa pasangan tersebut akan putus. Selain itu, hubungan berpacaran yang kurang terbuka, percaya, dan tergantung satu sama lain cenderung cepat berakhir. Hubungan dimana masing-masing pribadi kurang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan materi untuk pasangannya juga tidak akan berlanjut.
Penelitian meta-analysis telah menunjukkan bahwa kelanggengan suatu hubungan pacaran banyak dipengaruhi oleh faktor hubungan timbal balik antara sepasang kekasih dalam hubungan tersebut. Dari berbagai sub-faktor hubungan dalam berpacaran, cara pandang yang positif terhadap hubungan, adanya komitmen untuk mempertahankan hubungan, sertausaha untuk menimbulkan kembali percikan-percikan cinta dengan melakukan hal romantis, merupakan tanda-tanda hubungan yang kuat. Sementara itu, faktor pribadi masing-masing pihak dalam berpacaran serta faktor di luar pasangan tidak banyak berpengaruh dalam meramalkan akhir hubungan pacaran. Artinya, seperti apa pun pacarmu dan bagaimanapun lingkungan kalian, jika kamu dapat menerima semuanya, niscaya hubungan kalian akan kuat.
Izinkan saya sedikit berpuisi;
Hubungan pacaran itu bukanlah soal aku saja atau kamu saja. Apalagi soal mereka. Hubungan berpacaran itu soal kita.
Sumber yang dipakai:
Le, B., Dove, L. E., Agnew, C.R., Korn, M. S., & Mutso, A. A. (2010). Predicting nonmarital romantic relationship dissolution: A meta-analytic synthesis. Personal Relationships, 17, 377-390. DOI: 10.1111/j.1457-6811.2010.01285.x

Study and Have Fun


5 Alasan Kenapa HARUS Pacaran Sama Anak Psikologi


menantu-idaman-adalah-sarjana-psikologi-1 
 Saya sebagai salah satu mahasiswa dari jurusan psikologi yang hampir mengimbangi praktek perdukunan, karena setiap orang yang tahu jurusan kami dia langsung memberikan statmen “Berarti mas/mbak bisa baca saya?”, ini adalah statment salah kecuali kalau dijidat kalian ada tulisan diskripsi kepribadian anda. Apalagi kalau sampai ada yang tanya nomer togel yang keluar atau besok yang menang Marquez apa Lorenzo, keterlaluan kalian.
Back to topic, kenapa kalian harus pacaran sama anak psikologi berikut alasan-alasannya  yang mungkin bisa saya berikan kepada kalian :D
So, Cekidot ^_*

1. Dia bisa menjadi power bank
Bisa kebayang punya motivator portable yang bisa dibawa kemana-mana? Para ahli psikologi ini belajar banyak mengenai motif dari manusia memunculkan sikap tertentu, mulai dari need teorinya Abraham Maslow sampai milik bapak psikologi Freud (bacanya “Froid”) yang super mesum. Pacar kalian seperti power bank yang bisa dibawa kemana-mana, dan siap dipakai (dipakai?!?) waktu batrei kalian habis

2. Membantu menentukan pilihan
Bisa kebayang gak, waktu kalian belanja bareng terus kalian tanya “Sayang bajunya bagus yang mana? Yang merah atau yang biru?”. Terus pacar yang seorang psikolog menjawab “Super sekali pertanyaanya, coba kita lihat minds nya. Warna merah memberikan gambaran orang yang emosional dan penuh semangat.”
“Sedangkan warna biru membuat kamu terlihat lebih menenangkan, kuat dan bla..bla..bla…” Selanjutnya dia mengakhiri dengan mengatakan
“Itu!!” sambil tanganya menunjuk ke kalian.
Gimana, super sekali kan?
3. Dapat bocoran mengenai tes psikologi
Buat yang mau ngelamar kerja, pasti kalian juga akan melewati tahap psychotest, siapa lagi yang lebih paham dibanding kita yang anak psikologi. Walaupun tidak semua alat tes dapat dikadalin, paling tidak kita dapat sedikit bocoran. Terutama untuk alat tes proyektif seperti warteg dan HTP. Dan sedikit bocoran untuk mengakali papicostic, huehehehe.

4. Si dia lebih ngerti
Ya, iyalah. Kita anak psikologi 4 tahun (yang normal) bahkan sampai 7 tahun (yang abnormal) belajar tentang manusia. Si dia bisa membantu kalian untuk bercerita semakin banyak tentang masalah kalian dengan teknik konseling. Kalian akan merasa nyaman bercerita karena kita memang disiapkan menjadi tempat sampah buat yang ingin membuang masalahnya. Para sarjana psikologi ini memiliki kemampuan “pendengaran” yang kuat. Maksudnya, para psikolog ini dengan teknik konselingnya dilatih untuk mendengarkan. Disaat banyak teman kalian bukan lagi pendengar yang baik. Dari banyak mendengarkan inilah orang-orang psikologi jadi semakin mengerti kalian.
Bayangkan aja saat kalian mau tanya sesuatu “Sayang tau it…”
Belum selesai kalian ngomong “Ooh, jadi itu mentega kamu masukin dulu, diaduk sama telur, gula. Nanti kalau udah mengembang tambahkan pewarnanya. Setelah diaduk rata, masukkan kedalam oven dengan panas yang sedang selama 30 menit.”
“Okay, sayang makasih.”

5. Anda tidak mungkin “gila”
Istilah “gila” tidak ada dalam kamus psikologi. Jika kalian mengalami ganguan kejiwaan, dalam pengawasan seorang pacar yang lulusan psikologi kalian tidak pernah divonis “gila”. Tapi divonis Schizophrenia, Paranoia, Maniac depressive psychosis atau biar kayak artis yang kemarin sempat booming di youtube yaitu personality disorder. Keren gak tuh? istilahnya jadi kayak nama band metal.
Anak Psikologi