LAPORAN
PENELITIAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II DEWASA MADYA Mengenai “Keadaan Post Power
Syndrome pada masa Pensiun”
Oleh
:
Fitria
Ardini (131664037)
Psikologi
2013 A
PRODI
S1 PSIKOLOGI
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
2014
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat serta
hidayahNya saya dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Dalam laporan ini saya
mengambil sebuah judul “Keadaan Post Power Syndrome di masa Pensiun”. Saya juga
berterimakasih kepeda Ibu Drs. Miftakhul jannah selaku dosen pembimbing saya
dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan II yang telah memberikan tugas ini
kepada saya.
Saya menyadari bahwa laporan yang
saya buat ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun dari pembaca yang nantinya bisa melengkapi dan
memperbaiki laporan kasus ini sehingga laporan ini dapat bermanfaat bagi saya
sendiri maupun bagi pembaca.
Surabaya,
8 Mei 2014
Penulis
BAB.I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dewasa madya atau paruh baya biasanya
berusia 40-60 tahun. Sebagai orang dewasa pastinya sudah mulai bekerja, bekerja
merupakan suatu aktivitas yang dilakukan mereka untuk mencapai tujuan tertentu.
Dalam bekerja individu dapat memperoleh kepuasan tersendiri, karena selain
bekerja bisa mendatangkan uang bekerja juga dapat memberikan nilai dan kebanggaan tersendiri. Mereka yang bekerja dapat
menuangkan kreativitas mereka dan memproduksikannya sehingga mereka bisa
menunjukkan kehebatannya.
Ketika individu sudah bekerja keras
untuk mencapai keberhasilannya mereka akan menjadika pekerjaannya semakin
optimal sehingga mereka akan menempati posisi atau jabatan yang baik dalam
pekerjaannya. Namun, setiap individu yang bekerja mereka akan mengalami masa
dimana mereka harus beristirahat bekerja karena usia yang sudah tidak mudah
lagi yaitu masa pensiun. Ketika mereka yang mengalami pensiun, mereka cenderung
akan lebih cemas dan pensiun dianggap sebagai suatu kenyataan yang tidak
menyenangkan, karena mereka berfikir apa yang harus dilakukan setelah pensiun
nanti.
Masa pensiun biasanya lebih banyak
dialami oleh PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang telah habis masa tugasnya dalam
bekerja. Individu yang mengalami pensiun biasannya akan mengalami shock dalam
kejiwaannya, sering sakit-sakitan, ini terjadi karena ketakutan mereka pada apa
yang akan mereka lakukan kelak setelah pensiun. Hal semacam ini biasa kita
kenal sebagai Krisis Interpersonal atau Post Power Syndrome (Dinsi,2006).
Post Power Syndrome merupakan suatu
gejala yang timbul ketika individu sudah tidak lagi menduduki suatu jabatan
yang dulunya sangat baik dan mereka banggakan pada saat bekerja. Gejala ini
adalah yang sering dialami oleh mereka yang telah mengalami pensiun dalam
bekerja. Individu yang mengalami post power syndrome biasannya mengalami
setres, depresi, tidak bahagia, cemas dan merasa telah kehilangan harga diri.
Dalam hal ini mungkin banyak pria yang mengalaminya karena pada dasarnya wanita
lebih bisa menghargai apa yang telah terjadi pada dirinya, mereka lebih peduli
terhadap relasi daripada kekuasaan.
B. Rumusan
Penelitian
1. Bagaimanakah
gejala-gejala post power syndrome yang dialami PNS?
2. Apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan seseorang
mengalami Post Power Syndrome setelah
pensiun ?
C. Tujuan
Penelitian
1. Mengetahui
gejala-gejala post power syndrome pada PNS
2. Mengetahui
faktor-faktor yang menyebabkan
seseorang mengalami Post Power
Syndrome setelah pensiun
BAB.
II TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian
Post Power Syndrome
Post power syndrome merupakan gejala
kejiwaan yang timbul akibat adanya ketakutan memasuki usia tua dan persepsi
yang menganggap dirinya sudah tidak berguna lagi sehingga mereka akan mengalami
pensiun atau masa istirahat bekerja.
B. Gejala-gejala
post power syndrome
Menurut
Dinsi (2006), gejala post power syndrome ada 3 tipe, yaitu :
a. Gejala
Fisik
Wajahnya akan jauh
terlihat lebih tua dibanding pada saat masih menjabat di duna kerja. Perubahan
warna rambut yang jadi putih,kulit yang mulai berkeriput dan sering
sakit-sakitan,lemas dan tidak ada semangat lagi (Farage & kawan-kawan,
2009)
b. Gejala
Emosi
Orangnya akan mudah
tersinggung, merasa tidak ada gunanya lagi, merasa tidak berharga dan ingin
menjahui lingkungannya dengan cara mengasingkan diri.
c. Gejala
Perilaku
Mereka akan cenderung
malu jika bertemu dengan orang lain, sering menunjukkan kekesalan atau
kemarahannya di rumah maupun di tempat umum.
C. Faktor-faktor
penyebab seseorang mengalami post power syndrome
Menurut Turner & Helmes (1983),
beberapa faktor penyebab tumbunhnya post power syndrome pada diri seseorang,
yakni :
a. Kehilangan posisi jabatan dalam bekerja
merupakan kehilangan harga diri, karena seseorang merasa sudah tidak dihargai
lagi. Ketika seseorang memiliki sebuah jabatan mereka merasa lebih percaya diri
karena mendapat kepercayaan dari atasan untuk memiliki sebuah kekuasaan di
pekerjaannya. Seseorang yang masih
bekerja mepunyai derajat yang lebih tinggi dibanding orang yang tidak bekerja
(Papalia, 2002).
Seseorang yang mengalami pensiun mereka akan
cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri, merasa tidak di akui dan tidak dihargai oleh keluarga dan teman
sekantornya.
b. Kehilangan
kontak sosial yang menujukkan pada pekerjaan dengan jabatan yang jelas. Pensiun
ternyata menyebabkan seseorang kehilangan sebagian besar kelompok sosialnya
seperti teman-teman sekantor, atasan, bawahannya.
c. Kehilangan
sumber kehidupan atau pekerjaan yang dulu pernah dijabatnya. Hal ini
menyebabkan berubahnya pola hidup mereka dan keluarganya. Karena yang dulunya
hidup serba kecukupan kini sudah tidak lagi, dan mereka dituntut untuk lebih
hemat.
D. Pensiun
Pensiun merupakan masa di mana seseorang sudah tidak bekerja
lagi karena masa tugasnya sudah selesai. Dibutuhkan kesiapan mental dan keadaan
jiwa yang baik untuk menghadapi perubahan sosial ini, sehingga tidak akam menimbulkan
setres, depresi dan frustasi pada diri individu. Masalah yang terjadi pada masa
pensiun adalah mengenai kepuasan dalam pekerjaan, Usia, dan kesehatan.
BAB.
III HASIL dan PEMBAHASAN
A. Hasil
Observasi
v Identitas
Nama : Bapak Subechan
Tempat,
tanggal lahir : Gresik, 31 desember 1955
Usia : 59 tahun
Pekerjaan : Dinas perhubungan laut
(pensiunan) Gol. II C
Ciri-ciri
tubuh : kurus, berkulit
cokelat, rambut beruban, mata kecil dan kulit
mulai mengeriput, dan hidung mancung.
Status
: Nikah
Ekonomi : ± 1.951.100
Pertamakali subjek ditanyai di rumahnya
beliau terlihat enggan untuk bicara. Saya memulai pembicaraan dengan menanyakan
bapak pensiunan dari mana, dari awal pembicaraan itulah beliau mulai mau berbicara tentang masalahnya setelah dia
pensiun meskipun sesekali pandangan beliau mengarah lurus ke depan, memangku
tangan dan memutar bola matanya. Bapak tersebut terlihat sangat tidak
bersemangat dalam melakukan aktivitas apapun.
B. Pembahasan
1. Bagaimanakah
gejala-gejala post power syndrome yang dialami PNS?
Gejala
fisik post power syndrome pada kasus bapak S ini mengalami perubahan pada
kekuatan fisiknya akibat telah pensiun. Dengan begitu beliau mengalami
kurangnya semangat dalam dirinya sehingga merasa malas jika harus beraktifitas.
Selain itu beliau juga mengalami penurunan pada indra penglihatan dan
pendengarannya. Beliau mengatakan bahwa penglihatannya dirasakan berkurang saat
setelah pensiun, beliau tidak berani keluar rumah jika tidak bersama teman atau
istrinya. Selain itu beliau juga merasakan beberapa penyakit yang mulai muncul
seperti reumatik.
Hal
ini juga sejalan dengan (Dinsi, 2006), (Fowler & Leight-Paffenroth,2007)
seorang yang mengalami post power syndrome, gejala fisiknya akan semakin lemah
dibanding pada saat ia menjabat dan pada usia itu pendengaran muali berkurang.
Dan juga adanya gejala emosi yang mulai tampak yaitu beliau merasa lebih emosi
karena berada di rumah setiap hari sehingga beliau mengerti semua permasalahan
yang terjadi di rumah sehingga mengharuskan beliau mengurus semuanya. Hudgest
(dalam Santrock 1995), pria tidak suka dan akan menolak jika di suruh melakukan
pekerjaan rumah.
Berdasarkan
gejala-gejala diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa post power syndrome
yang dialami oleh bapak S berpengaruh
terhadap keadaan fisiknya seperti pendengaran, penglihatan dan daya
tahan tubuhnya. Beliau mengalami itu semua setelah pensiun, dengan perubahan
tersebut beliau sering berkonflik dengan istri dan juga anak-anaknya jika
mereka membuat sedikit kesalahan.
2. Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengalami Post Power Syndrome setelah pensiun
a. Kehilangan
jabatan
Pada
kasus di atas bapak S merasa tidak dapat memberikan manfaat, beliau juga
mengalami perubahan sikap terhadap keluarga dan lingkungan sekitar. Sebagai
contoh, ketika beliau pergi ke luar dan para tetangga tidak menyapanya.
Seseorang yang mengalami pensiun mereka akan merasa harga dirinya turun
sehingga mereka merasa tidak diterima dan dihargai oleh orang disekitarnya
(Helmes, 1983).
b. Kehilangan
kontak sosial
Bapak
S merasa telah kehilangan kontak atau hubungan sosial pada rekan kerjanya.
Komunikasi yang dulunya baik dengan teman-teman kerjanya kini sudah berkurang.
Untuk mengatasi masalah tersebut maka beliau harus mencari kesibukan-kesibukan
seperti beraktivitas dengan orang-orang baru di lingkungannya yang baru.
c. Kehilangan
sumber penghasilan
Pada
kasus di atas setelah pensiun bapak S merasakan pengahasilannya mulai berkurang
oleh sebab itu pola hidup keluargannyapun berubah dan itu sering di protes oleh
sang istri.
Berdasarkan
penjelasan mengenai faktor-faktor post power syndrome diatas dapat ditarik
sebuah kesimpulan bahwa bapak S merasakan itu semua, posisi beliau sebagai
kepala keluarga maka setelah pensiun post power syndrome lebih ia rasakan.
Beliau cenderung memiliki pribadi yang tertutup, apabila mengalami masalah
beliau cenderung memendam masalahnya sendiri dan tidak menceritakannya pada
orang lain. Beberapa kasus mengenai post power syndrome seseorang memiliki
kepribadian yang tertutup atau introvert akan terjadi psikosomatis di mana
sakit yang di sebabkan oleh beban emosi tidak tersalurkan (Hema, 2003).
BAB.
IV PENUTUP
I.
Kesimpulan
Menurut hasil
penelitian diatas dapat di tarik kesimpulan, bahwa bapak S memiliki gejala-gejala post power syndrome yaitu :
a. Gejala Fisik
Wajahnya akan jauh
terlihat lebih tua dibanding pada saat masih menjabat di duna kerja. Perubahan
warna rambut yang jadi putih,kulit yang mulai berkeriput dan sering
sakit-sakitan,lemas dan tidak ada semangat lagi (Farage & kawan-kawan,
2009)
b. Gejala
Emosi
Orangnya akan mudah
tersinggung, merasa tidak ada gunanya lagi, merasa tidak berharga dan ingin
menjahui lingkungannya dengan cara mengasingkan diri.
c. Gejala
Perilaku
Mereka akan cenderung
malu jika bertemu dengan orang lain, sering menunjukkan kekesalan atau
kemarahannya di rumah maupun di tempat umum.
Mengenai faktor-faktor penyebab post
power syndrome juga dapat ditarik kesimpulan yaitu :
a. Kehilangan
posisi jabatan dalam bekerja merupakan kehilangan harga diri, karena seseorang
merasa sudah tidak dihargai lagi. Ketika seseorang memiliki sebuah jabatan
mereka merasa lebih percaya diri karena mendapat kepercayaan dari atasan untuk
memiliki sebuah kekuasaan di pekerjaannya. Seseorang yang masih bekerja mepunyai derajat yang
lebih tinggi dibanding orang yang tidak bekerja (Papalia, 2002).
Seseorang yang mengalami pensiun mereka akan
cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri, merasa tidak di akui dan tidak dihargai oleh keluarga dan teman
sekantornya.
b. Kehilangan
kontak sosial yang menujukkan pada pekerjaan dengan jabatan yang jelas. Pensiun
ternyata menyebabkan seseorang kehilangan sebagian besar kelompok sosialnya
seperti teman-teman sekantor, atasan, bawahannya.
c. Kehilangan
sumber kehidupan atau pekerjaan yang dulu pernah dijabatnya. Hal ini
menyebabkan berubahnya pola hidup mereka dan keluarganya. Karena yang dulunya
hidup serba kecukupan kini sudah tidak lagi, dan mereka dituntut untuk lebih
hemat.
II.
Saran
Berdasarkan penelitian
yang telah saya lakukan, maka saran-saran yang dapat saya
berikan adalah :
1. Disarankan
kepada bapak S untuk selalu berfikir positif
terhadap masalah yang telah dihadapi seperti masalah pensiun.
2. Sebaiknya
Bapak S juga mencari pekerjaan atau aktivitas baru seperti membuka warung makan
agar beliau mendapat kesibukan.
3. Beliau
juga bisa mengikuti kegiatan sosial seperti bersih-bersih di sekitar rumah, kegiatan RT atau RW dan
pengajian.
DAFTAR PUSTAKA
Dinsi,
V, Setiati.2006. Ketika Pensiun Tiba. Jakarta : Wijaya Media Utama.
Hurlock,
E B. 1980. Psikologi perkembangan, suatu rentang kehidupan, edisi kelima. Alih
Bahasa. Jakarta : Erlangga.
Santrock,
J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan masa hidup edisi kelima. Jakarta
: Erlangga.
Papalia,
D.E., Strens, H.L., Feldman, R.D., & Camp, C.J. 2002. Adult development
and aging, second edition. New York : Mc. Graw Hill.
Santrock,
J.W. 2012. Life-Span Development. Perkembangan masa hidup edisi ketiga belas.
Jakarta : Erlangga.