salju

Selasa, 08 Juli 2014



LAPORAN PENELITIAN PSIKOLOGI PERKEMBANGAN II DEWASA MADYA Mengenai “Keadaan Post Power Syndrome pada masa Pensiun”


Oleh :
Fitria Ardini (131664037)
Psikologi 2013 A

PRODI S1 PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2014


KATA PENGANTAR
                Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat serta hidayahNya saya dapat menyelesaikan laporan kasus ini. Dalam laporan ini saya mengambil sebuah judul “Keadaan Post Power Syndrome di masa Pensiun”. Saya juga berterimakasih kepeda Ibu Drs. Miftakhul jannah selaku dosen pembimbing saya dalam mata kuliah Psikologi Perkembangan II yang telah memberikan tugas ini kepada saya.
            Saya menyadari bahwa laporan yang saya buat ini jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca yang nantinya bisa melengkapi dan memperbaiki laporan kasus ini sehingga laporan ini dapat bermanfaat bagi saya sendiri maupun bagi pembaca.



Surabaya, 8 Mei 2014

                                                                                                                          Penulis



BAB.I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Dewasa madya atau paruh baya biasanya berusia 40-60 tahun. Sebagai orang dewasa pastinya sudah mulai bekerja, bekerja merupakan suatu aktivitas yang dilakukan mereka untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam bekerja individu dapat memperoleh kepuasan tersendiri, karena selain bekerja bisa mendatangkan uang bekerja juga dapat memberikan  nilai dan kebanggaan  tersendiri. Mereka yang bekerja dapat menuangkan kreativitas mereka dan memproduksikannya sehingga mereka bisa menunjukkan kehebatannya.
Ketika individu sudah bekerja keras untuk mencapai keberhasilannya mereka akan menjadika pekerjaannya semakin optimal sehingga mereka akan menempati posisi atau jabatan yang baik dalam pekerjaannya. Namun, setiap individu yang bekerja mereka akan mengalami masa dimana mereka harus beristirahat bekerja karena usia yang sudah tidak mudah lagi yaitu masa pensiun. Ketika mereka yang mengalami pensiun, mereka cenderung akan lebih cemas dan pensiun dianggap sebagai suatu kenyataan yang tidak menyenangkan, karena mereka berfikir apa yang harus dilakukan setelah pensiun nanti.
Masa pensiun biasanya lebih banyak dialami oleh PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang telah habis masa tugasnya dalam bekerja. Individu yang mengalami pensiun biasannya akan mengalami shock dalam kejiwaannya, sering sakit-sakitan, ini terjadi karena ketakutan mereka pada apa yang akan mereka lakukan kelak setelah pensiun. Hal semacam ini biasa kita kenal sebagai Krisis Interpersonal atau Post Power Syndrome (Dinsi,2006).
Post Power Syndrome merupakan suatu gejala yang timbul ketika individu sudah tidak lagi menduduki suatu jabatan yang dulunya sangat baik dan mereka banggakan pada saat bekerja. Gejala ini adalah yang sering dialami oleh mereka yang telah mengalami pensiun dalam bekerja. Individu yang mengalami post power syndrome biasannya mengalami setres, depresi, tidak bahagia, cemas dan merasa telah kehilangan harga diri. Dalam hal ini mungkin banyak pria yang mengalaminya karena pada dasarnya wanita lebih bisa menghargai apa yang telah terjadi pada dirinya, mereka lebih peduli terhadap relasi daripada kekuasaan.
B.     Rumusan Penelitian
1.      Bagaimanakah gejala-gejala post power syndrome yang dialami PNS?
2.      Apa sajakah faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengalami Post Power Syndrome setelah pensiun ?

C.     Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui gejala-gejala post power syndrome pada PNS
2.      Mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengalami Post Power Syndrome setelah pensiun
BAB. II TINJAUAN PUSTAKA
A.    Pengertian Post Power Syndrome
Post power syndrome merupakan gejala kejiwaan yang timbul akibat adanya ketakutan memasuki usia tua dan persepsi yang menganggap dirinya sudah tidak berguna lagi sehingga mereka akan mengalami pensiun atau masa istirahat bekerja.
B.     Gejala-gejala post power syndrome
Menurut Dinsi (2006), gejala post power syndrome ada 3 tipe, yaitu :
a.       Gejala Fisik
Wajahnya akan jauh terlihat lebih tua dibanding pada saat masih menjabat di duna kerja. Perubahan warna rambut yang jadi putih,kulit yang mulai berkeriput dan sering sakit-sakitan,lemas dan tidak ada semangat lagi (Farage & kawan-kawan, 2009)
b.      Gejala Emosi
Orangnya akan mudah tersinggung, merasa tidak ada gunanya lagi, merasa tidak berharga dan ingin menjahui lingkungannya dengan cara mengasingkan diri.
c.       Gejala Perilaku
Mereka akan cenderung malu jika bertemu dengan orang lain, sering menunjukkan kekesalan atau kemarahannya di rumah maupun di tempat umum.
C.     Faktor-faktor penyebab seseorang mengalami post power syndrome
Menurut Turner & Helmes (1983), beberapa faktor penyebab tumbunhnya post power syndrome pada diri seseorang, yakni :
a.        Kehilangan posisi jabatan dalam bekerja merupakan kehilangan harga diri, karena seseorang merasa sudah tidak dihargai lagi. Ketika seseorang memiliki sebuah jabatan mereka merasa lebih percaya diri karena mendapat kepercayaan dari atasan untuk memiliki sebuah kekuasaan di pekerjaannya. Seseorang  yang masih bekerja mepunyai derajat yang lebih tinggi dibanding orang yang tidak bekerja (Papalia, 2002).
 Seseorang yang mengalami pensiun mereka akan cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri, merasa tidak di akui  dan tidak dihargai oleh keluarga dan teman sekantornya.
b.      Kehilangan kontak sosial yang menujukkan pada pekerjaan dengan jabatan yang jelas. Pensiun ternyata menyebabkan seseorang kehilangan sebagian besar kelompok sosialnya seperti teman-teman sekantor, atasan, bawahannya.
c.       Kehilangan sumber kehidupan atau pekerjaan yang dulu pernah dijabatnya. Hal ini menyebabkan berubahnya pola hidup mereka dan keluarganya. Karena yang dulunya hidup serba kecukupan kini sudah tidak lagi, dan mereka dituntut untuk lebih hemat.
D.    Pensiun
Pensiun merupakan  masa di mana seseorang sudah tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai. Dibutuhkan kesiapan mental dan keadaan jiwa yang baik untuk menghadapi perubahan sosial ini, sehingga tidak akam menimbulkan setres, depresi dan frustasi pada diri individu. Masalah yang terjadi pada masa pensiun adalah mengenai kepuasan dalam pekerjaan, Usia, dan kesehatan.













BAB. III HASIL dan PEMBAHASAN
A.    Hasil Observasi
v  Identitas
Nama                            : Bapak Subechan
Tempat, tanggal lahir : Gresik, 31 desember 1955
Usia                               : 59 tahun
Pekerjaan                      : Dinas perhubungan laut (pensiunan) Gol. II C
Ciri-ciri tubuh               : kurus, berkulit cokelat, rambut beruban, mata kecil dan kulit  mulai mengeriput, dan hidung mancung.
Status                            : Nikah
Ekonomi                       : ± 1.951.100
Pertamakali subjek ditanyai di rumahnya beliau terlihat enggan untuk bicara. Saya memulai pembicaraan dengan menanyakan bapak pensiunan dari mana, dari awal pembicaraan  itulah beliau mulai mau  berbicara tentang masalahnya setelah dia pensiun meskipun sesekali pandangan beliau mengarah lurus ke depan, memangku tangan dan memutar bola matanya. Bapak tersebut terlihat sangat tidak bersemangat dalam melakukan aktivitas apapun.
B.     Pembahasan
1.      Bagaimanakah gejala-gejala post power syndrome yang dialami PNS?
Gejala fisik post power syndrome pada kasus bapak S ini mengalami perubahan pada kekuatan fisiknya akibat telah pensiun. Dengan begitu beliau mengalami kurangnya semangat dalam dirinya sehingga merasa malas jika harus beraktifitas. Selain itu beliau juga mengalami penurunan pada indra penglihatan dan pendengarannya. Beliau mengatakan bahwa penglihatannya dirasakan berkurang saat setelah pensiun, beliau tidak berani keluar rumah jika tidak bersama teman atau istrinya. Selain itu beliau juga merasakan beberapa penyakit yang mulai muncul seperti reumatik.
Hal ini juga sejalan dengan (Dinsi, 2006), (Fowler & Leight-Paffenroth,2007) seorang yang mengalami post power syndrome, gejala fisiknya akan semakin lemah dibanding pada saat ia menjabat dan pada usia itu pendengaran muali berkurang. Dan juga adanya gejala emosi yang mulai tampak yaitu beliau merasa lebih emosi karena berada di rumah setiap hari sehingga beliau mengerti semua permasalahan yang terjadi di rumah sehingga mengharuskan beliau mengurus semuanya. Hudgest (dalam Santrock 1995), pria tidak suka dan akan menolak jika di suruh melakukan pekerjaan rumah.
Berdasarkan gejala-gejala diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa post power syndrome yang dialami oleh bapak S berpengaruh  terhadap keadaan fisiknya seperti pendengaran, penglihatan dan daya tahan tubuhnya. Beliau mengalami itu semua setelah pensiun, dengan perubahan tersebut beliau sering berkonflik dengan istri dan juga anak-anaknya jika mereka membuat sedikit kesalahan. 
2.      Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang mengalami Post Power Syndrome setelah pensiun
a.       Kehilangan jabatan
Pada kasus di atas bapak S merasa tidak dapat memberikan manfaat, beliau juga mengalami perubahan sikap terhadap keluarga dan lingkungan sekitar. Sebagai contoh, ketika beliau pergi ke luar dan para tetangga tidak menyapanya. Seseorang yang mengalami pensiun mereka akan merasa harga dirinya turun sehingga mereka merasa tidak diterima dan dihargai oleh orang disekitarnya (Helmes, 1983).
b.      Kehilangan kontak sosial
Bapak S merasa telah kehilangan kontak atau hubungan sosial pada rekan kerjanya. Komunikasi yang dulunya baik dengan teman-teman kerjanya kini sudah berkurang. Untuk mengatasi masalah tersebut maka beliau harus mencari kesibukan-kesibukan seperti beraktivitas dengan orang-orang baru di lingkungannya yang baru.
c.       Kehilangan sumber penghasilan
Pada kasus di atas setelah pensiun bapak S merasakan pengahasilannya mulai berkurang oleh sebab itu pola hidup keluargannyapun berubah dan itu sering di protes oleh sang istri.
Berdasarkan penjelasan mengenai faktor-faktor post power syndrome diatas dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa bapak S merasakan itu semua, posisi beliau sebagai kepala keluarga maka setelah pensiun post power syndrome lebih ia rasakan. Beliau cenderung memiliki pribadi yang tertutup, apabila mengalami masalah beliau cenderung memendam masalahnya sendiri dan tidak menceritakannya pada orang lain. Beberapa kasus mengenai post power syndrome seseorang memiliki kepribadian yang tertutup atau introvert akan terjadi psikosomatis di mana sakit yang di sebabkan oleh beban emosi tidak tersalurkan (Hema, 2003).




BAB. IV PENUTUP
       I.            Kesimpulan
Menurut hasil penelitian diatas dapat di tarik kesimpulan, bahwa bapak  S memiliki gejala-gejala post  power syndrome yaitu :
a.        Gejala Fisik
Wajahnya akan jauh terlihat lebih tua dibanding pada saat masih menjabat di duna kerja. Perubahan warna rambut yang jadi putih,kulit yang mulai berkeriput dan sering sakit-sakitan,lemas dan tidak ada semangat lagi (Farage & kawan-kawan, 2009)
b.      Gejala Emosi
Orangnya akan mudah tersinggung, merasa tidak ada gunanya lagi, merasa tidak berharga dan ingin menjahui lingkungannya dengan cara mengasingkan diri.
c.       Gejala Perilaku
Mereka akan cenderung malu jika bertemu dengan orang lain, sering menunjukkan kekesalan atau kemarahannya di rumah maupun di tempat umum.
Mengenai faktor-faktor penyebab post power syndrome juga dapat ditarik kesimpulan yaitu :
a.       Kehilangan posisi jabatan dalam bekerja merupakan kehilangan harga diri, karena seseorang merasa sudah tidak dihargai lagi. Ketika seseorang memiliki sebuah jabatan mereka merasa lebih percaya diri karena mendapat kepercayaan dari atasan untuk memiliki sebuah kekuasaan di pekerjaannya. Seseorang  yang masih bekerja mepunyai derajat yang lebih tinggi dibanding orang yang tidak bekerja (Papalia, 2002).
 Seseorang yang mengalami pensiun mereka akan cenderung mengalami penurunan kepercayaan diri, merasa tidak di akui  dan tidak dihargai oleh keluarga dan teman sekantornya.
b.      Kehilangan kontak sosial yang menujukkan pada pekerjaan dengan jabatan yang jelas. Pensiun ternyata menyebabkan seseorang kehilangan sebagian besar kelompok sosialnya seperti teman-teman sekantor, atasan, bawahannya.
c.       Kehilangan sumber kehidupan atau pekerjaan yang dulu pernah dijabatnya. Hal ini menyebabkan berubahnya pola hidup mereka dan keluarganya. Karena yang dulunya hidup serba kecukupan kini sudah tidak lagi, dan mereka dituntut untuk lebih hemat.
    II.            Saran
Berdasarkan  penelitian  yang  telah saya  lakukan, maka saran-saran yang dapat saya berikan adalah :
1.      Disarankan kepada bapak S untuk selalu berfikir positif  terhadap masalah yang telah dihadapi seperti masalah pensiun.
2.      Sebaiknya Bapak S juga mencari pekerjaan atau aktivitas baru seperti membuka warung makan agar beliau mendapat kesibukan.
3.      Beliau juga bisa mengikuti kegiatan sosial seperti bersih-bersih  di sekitar rumah, kegiatan RT atau RW dan pengajian.





DAFTAR PUSTAKA
Dinsi, V, Setiati.2006. Ketika Pensiun Tiba. Jakarta : Wijaya Media Utama.
Hurlock, E B. 1980. Psikologi perkembangan, suatu rentang kehidupan, edisi kelima. Alih Bahasa. Jakarta : Erlangga.
Heman , E. 2003. Ciri-ciri post power syndrome. http://www.GerejaToraja.com
Santrock, J.W. 1995. Life-Span Development. Perkembangan masa hidup edisi kelima. Jakarta : Erlangga.
Papalia, D.E., Strens, H.L., Feldman, R.D., & Camp, C.J. 2002. Adult development and aging, second edition. New York : Mc. Graw Hill.
Santrock, J.W. 2012. Life-Span Development. Perkembangan masa hidup edisi ketiga belas. Jakarta : Erlangga.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar