salju

Jumat, 04 Juli 2014

Allow me fall in love with you?

bolehkah aku jatuh cinta padamu? 

  seperti aku jatuh cinta pada langit saat awan membayang lukisan? atau ketika kilat membelahnya menjadi beribu-ribu pendar dan pejar? atau, seperti inginku mencium bibir bulan saat ia menggantungkan bintang-bintang malam yang berani menampakkan diri sesaat siang sudah masuk ke peraduan?  ya, sungguh, aku berselingkuh dengan langit yang sedang tersenyum lembut pucat di atas sana. ia yang membangunkan rindu, saat rumput di bawah kakiku menjadi lebih lembut separuh tertidur oleh dongeng-dongeng angin malam.  bunga-bunga kuncup, dengan mata setengah terpejam dan melambai-lambai luruh tanpa perlu gelisah.  ada teduh di bawah kubah langit dan suara-suara malaikat menyanyikan kidung, menangkap doa-doa, menyimpan butir-butir keluh dan kesah, menanamkan rindu dalam mimpi-mimpi di buaian anak-anak manusia meringkuk nyaman, menaburkan wewangian cinta saat dua tubuh bersatu dalam peluh nikmat, hikmat, tanpa perlu jengah memalingkan wajah.  di saat-saat itu aku, sepenuhnya ingin, jatuh mencinta, dan itu, kekasih, bukan salah gravitasi bumi, melainkan salahku, sepenuhnya kuakui sebagai salahku sendiri. aku ingin jatuh mencinta, dan tidak ingin bangun-bangun lagi.  perbolehkan aku menyentuh anak rambutmu yang begitu semilir dan mengombak ramah di tepi-tepi kening dan pelipismu. ijinkan aku mengusap alismu yang membingkai atas kelopak matamu, mata itu penuh dengan pertanyaan yang ingin sekali kucarikan jawaban-jawaban,  mata itu penuh dengan jawaban-jawaban yang ingin kusandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu lama sudah kutabung di dalam ruas-ruas tulang dan kerangka jiwaku. saat kerling bintang jatuh satu-satu di atas atap langit, dan debu-debu kosmik melingkarkan jemari-jemari halusnya dalam semesta, meninggalkan jejak-jejak ribuan tahun meteor-meteor yang melesat untuk kemudian mati, aku ingin menitipkan juga jejak rawanku yang fana, yang hidup hanya sepersekian detik masa hidup semesta, dalam satu bintang yang tidak pernah mati di atas sana, bintang itu milik matamu yang dimeteraikan dengan satu saja cahaya, cahaya Kekasih, cahaya Cinta, cahaya yang melebihi dan merengkuh iman dan pengharapan, dimeteraikan dalam sebuah janji abadi, bukan sekedar fana, bukan sekedar romansa, bukan sekedar daging, bukan sekedar eros, bukan sekedar janji-janji oleh lidah yang lemah dan hati yang ragu-ragu.

bolehkah aku jatuh cinta kepadamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar