Allow me fall in love with you?
bolehkah aku jatuh cinta padamu?

seperti aku jatuh cinta pada langit
saat awan membayang lukisan? atau ketika kilat membelahnya menjadi
beribu-ribu pendar dan pejar? atau, seperti inginku mencium bibir bulan
saat ia menggantungkan bintang-bintang malam yang berani menampakkan
diri sesaat siang sudah masuk ke peraduan? ya, sungguh, aku
berselingkuh dengan langit yang sedang tersenyum lembut pucat di atas
sana. ia yang membangunkan rindu, saat rumput di bawah kakiku menjadi
lebih lembut separuh tertidur oleh dongeng-dongeng angin malam.
bunga-bunga kuncup, dengan mata setengah terpejam dan melambai-lambai
luruh tanpa perlu gelisah. ada teduh di bawah kubah langit dan
suara-suara malaikat menyanyikan kidung, menangkap doa-doa, menyimpan
butir-butir keluh dan kesah, menanamkan rindu dalam mimpi-mimpi di
buaian anak-anak manusia meringkuk nyaman, menaburkan wewangian cinta
saat dua tubuh bersatu dalam peluh nikmat, hikmat, tanpa perlu jengah
memalingkan wajah. di saat-saat itu aku, sepenuhnya ingin, jatuh
mencinta, dan itu, kekasih, bukan salah gravitasi bumi, melainkan
salahku, sepenuhnya kuakui sebagai salahku sendiri. aku ingin jatuh
mencinta, dan tidak ingin bangun-bangun lagi. perbolehkan aku menyentuh
anak rambutmu yang begitu semilir dan mengombak ramah di tepi-tepi
kening dan pelipismu. ijinkan aku mengusap alismu yang membingkai atas
kelopak matamu, mata itu penuh dengan pertanyaan yang ingin sekali
kucarikan jawaban-jawaban, mata itu penuh dengan jawaban-jawaban yang
ingin kusandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang begitu lama sudah
kutabung di dalam ruas-ruas tulang dan kerangka jiwaku. saat kerling
bintang jatuh satu-satu di atas atap langit, dan debu-debu kosmik
melingkarkan jemari-jemari halusnya dalam semesta, meninggalkan
jejak-jejak ribuan tahun meteor-meteor yang melesat untuk kemudian mati,
aku ingin menitipkan juga jejak rawanku yang fana, yang hidup hanya
sepersekian detik masa hidup semesta, dalam satu bintang yang tidak
pernah mati di atas sana, bintang itu milik matamu yang dimeteraikan
dengan satu saja cahaya, cahaya Kekasih, cahaya Cinta, cahaya yang
melebihi dan merengkuh iman dan pengharapan, dimeteraikan dalam sebuah
janji abadi, bukan sekedar fana, bukan sekedar romansa, bukan sekedar
daging, bukan sekedar eros, bukan sekedar janji-janji oleh lidah yang
lemah dan hati yang ragu-ragu.
bolehkah aku jatuh cinta kepadamu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar