Hatiku Berhenti di Kamu, Karena Rasa
ini Ada Tanpa Alasan dan Tanpa Harapan
Awalnya, kukira aku bisa
menganggapmu teman biasa seperti pria lainnya. Kukira aku bisa berbincang
denganmu tanpa merasakan apa-apa. Kukira aku bisa mengirim pesan padamu tanpa
menunggu kamu membalasnya. Kukira aku bisa melanjutkan perkenalan tanpa peduli
seperti apa akhirnya. Tapi perkiraanku salah.
Ucapan-ucapan sepele yang tiap hari kudengar yang dulu
hanya basa-basi, tak kusangka berbalik menjadi kalimat yang kini kunanti.
Hari-hariku terasa aneh dan kamulah alasannya.
Ada kalanya kamu hadir
menyapaku, lalu kamu menghilang untuk sekian waktu. Ada saat dimana kamu
berkelakar dan merayu, lalu detik berikutnya kamu dingin seperti salju. Ada
satu hari dimana kamu mengingatku, lalu berhari-hari berikutnya kamu lupa
denganku. Ada saat dimana kamu bertanya, kemudian tak lagi peduli jawabanku
apa.
Kamu lebih sering tiada
dibanding ada. Kamu lebih sering mengabaikanku dibanding peduli. Kamu lebih
banyak diam dibanding bicara. Kamu keras seperti dinding dan hanya sesekali
membuka celah. Harusnya aku benci dengan sikapmu. Tapi hatiku mengelak.
Aku hanya persinggahan untukmu menepi. Meski aku menawarkan rumah, kamu tetap akan pergi.
Aku tahu kita akan berakhir
tanpa memulai apa-apa. Kamu tak pernah memperjuangkanku. Hanya aku yang
menunggu pesan darimu. Hanya aku yang berdebar mendengar suaramu. Hanya aku
yang mencari-cari topik agar kita bisa terus mengobrol.
“Kamu meninggalkan jejak dalam
jarak, dan aku mendekapnya erat.”
Kamu ingat saat kita mengobrol
di malam hari ? Andai kamu bisa melihat ekspresi sebenarnya dari wajahku, pasti kamu akan
tertawa karena senyum konyol yang tak henti-hentinya bertengger di wajahku.
Banyak hal yang tak kamu tahu.
Dan biar kini kuberitahu. Aku sering membaca ulang percakapan kita. Aku sering
mengingat ulang obrolan kita. Aku sering memutar-mutar suaramu yang tertinggal
di ingatanku. Aku sering mengecek ulang sosial mediamu. Jujur, aku
melakukannya.
Hatiku telah jatuh tanpa alasan di tempat yang tak memberi harapan.
Temanku
bertanya kenapa hatiku berhenti di kamu. Harusnya jawaban itu ada. Karena
teman-temanku jatuh hati pada pria yang bisa mereka rinci kelebihannya
sedemikian rupa. Kucoba mencari bagian mana darimu yang membuatku berdebar.
Tapi segalanya melebur menjadi satu bagian. Yaitu kamu. Aku menyukaimu karena
itu kamu, tanpa alasan.
Percayalah, aku sudah mencoba
menampik rasa. Kutekankan pada diriku bahwa kamu hanya teman biasa. Kutekankan
pada diriku bahwa dimatamu aku bukan siapa-siapa. Kutekankan pada diriku bahwa
di duniamu aku bukan satu-satunya. Kutekankan pada diriku bahwa kamu tak punya
rasa yang sama. Tapi aku gagal.
Kamu tahu? Aku ini wanita yang bodoh sekaligus kuat.
Aku memelihara rasa yang tak
punya masa depan. Aku menunggumu dalam ketidakpastian. Aku menaruh asa pada
kemustahilan yang kau tegaskan. Kamu melarangku berharap, tapi harapanku tak
tahu diri. Dia tetap ada meski sudah kuusir, kusuruh pergi bahkan kutinggalakan
di pelataran sepi. Kamu tahu hebatnya perasaanku? Dia berhasil menjemput
harapan itu berkali-kali. Sudah kumarahi, tapi dia tak peduli. Rasaku padamu
menari dengan bodohnya.
Biarlah. Kamu tak perlu
bertanggung jawab atas rasaku. Kamu bebas dengan hidupmu. Perasaan ini tak akan
mengganggumu. Biar saja aku yang rindu dan bertepuk sebelah tangan. Sampai
suatu saat yang entah kapan aku lelah dengan sendirinya.
“Cinta ini kupersembahkan pada hati yang terkunci. Ia
terantuk di depan pintu, mengetuk-ngetuk dalam sunyi.”
by.Fie_Rt:TD
Tidak ada komentar:
Posting Komentar